Akan tetapi jika seseorang ragu akan kemampuannya, juga
mudah takut melihat arus sungai dari ketinggian, ia akan melakukan pekerjaan
itu dengan ragu-ragu. Bahkan karena tidak mengenali dirinya yang sebenarnya
atau ia penakut, maka ia bisa tercebur ke sungai.
Setiap kali seseorang hendak mengerjakan sesuatu, maka ia
harus memilih melakukannya dengan percaya diri atau meninggalkannya sama
sekali.
Jika ia memilih mengerjakan berarti ia tahu dirinya mampu
mengerjakan.
Namun jika ia ragu-ragu mampu ataukah tidak, maka lebih
baik ia meninggalkan pekerjaan itu.
Agar seseorang memiliki sikap dan mental percaya diri, Agama Islam telah
menunjukkan beberapa caranya.
a. Bertawakal
kepada Allah Swt.
Tawakal berarti mewakilkan atau
menyerahkan segala urusan kepada Allah swt setelah berusaha keras dalam
berikhtiar dengan sepenuh kemampuan kita.
Jika seseorang
akan mengerjakan sesuatu maka hendaknya bertawakal kepada Allah Swt. sebelum
melakukannya. Insya Allah, Allah Swt. akan menolong.
Allah Swt. berfirman:(QS.
Ali-Imran/3:159)
فَإِذَا عَزَمْتَ
فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “...
Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka
bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai
orang
yang bertawakal.”
b. Jangan
ragu-ragu
Kita dianjurkan untuk selalu mengerjakan segala sesuatu
dengan sungguh-sungguh tanpa ragu.
Salah satu cara agar kita tidak ragu adalah dengan cara
mengenali diri sendiri dan bertanya pada
diri sendiri
Apakah saya benar-benar mampu?
Apakah waktunya cukup?
Apakah jika ada halangan bisa mengatasinya?
Nah jika kita yakin bisa melakukannya maka kerjakanlah
apa yang kita rencanakan.
Namun jika ragu dan tidak yakin tinggalkanlah.
c. Jangan malu
mengerjakan kebaikan
Ada kalanya sebelum mengerjakan sesuatu kita dihantui
oleh perasaan ragu dan malu, sehingga tanpa kita sadari, waktu yang tersedia
habis oleh perasaan ragu dan malu itu. Apabila kita menjadi hamba Allah Swt.
yang bertawakal maka kita harus menjauhi kedua sifat malu dan ragu itu.
Jangan keliru menafsirkan sabda Rasulullah saw. :
( اَلحَيَاءُ مِنَ الْإيْمَانِ ) متفق عليه
Artinya:
Rasulullah saw. bersabda: perilaku malu merupakan bagian
dari iman. (Mutafaqun a’laih)
Hadis ini harus diletakkan pada makna yang sebenarnya.
Jika dalam hati kita terbetik ingin melakukan sesuatu yang salah dan keliru
maka kita perlu malu dan memilih tidak mengerjakannya. Akan tetapi kalau untuk
mengerjakan kebaikan kita justru tidak boleh malu. Misalnya mau membantu orang
yang sedang susah tidak boleh malu. Mau melewati jalan yang sudah benar juga
tidak boleh malu. Tetapi misalnya seseorang diajak melakukan perbuatan yang
merugikan banyak orang (korupsi, berbohong, dll) maka kita harus malu. Malu
melakukan maksiat/perbuatan tidak terpuji, adalah awal bagi kebiasaan seseorang
yang berakhlak mulia.
Jadi, jika tiba waktu salat, maka seseorang tidak boleh
malu melaksanakannya. Jika seseorang disuruh berpidato naik ke panggung
(misalnya mewakili teman-temannya) dan ia mampu
melakukannya, maka ia tidak boleh menolaknya. Ia harus percaya diri, tidak
boleh ragu-ragu dan tidak boleh malu dalam semua kebaikan.
.
Nah untuk pembelajaran sekarang mungkin dicukupkan sekian dulu dan selanjutnya silahkan kerjakan tugas di bawah ini pada modul kalian ya, tentu saja dengan penuh percaya diri!
Tugas:
Jawablah Pertanyaan Berikut ini !
1. Menurut
kalian apa yang dimaksud dengan percaya diri?
2. Pernahkan
kalian ketika melakukan sesuatu, dengan kurang percaya diri? Jika pernah apa yang kalian
lakukuan? Jika tidak pernah bagaimana perasaannya setelah kalian melakukannya?
3. Ketika
kalian akan melakukan sesuatu tapi dalam hatinya tidak yakin bisa melakukannya,
bagaimana caranya supaya bisa percaya diri untuk melakukannya?
Silahkan jawabannya ditulis dalam modul pembelajaran yang telah dibagikan
Terima kasih