Kamis, 16 Juli 2020

PAI PEKAN 1

Untuk pembelajaran kali ini silahkan toton dulu video di bawah ini samapai selesai !








Asalamu a'laikum wr wb 
Hallo Bagimana kabarnya hari ini?😇 semoga semuanya senantiasa mendapat keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT. 

Pada kesempatan hari ini kita akan mengenal sebagian dari Akhlaq Rasulullaah Muhammad  s.a.w, beliau merupakan manusia mulia yang paling baik akhlaqnya.

Salah satu akhlaq beliau yaitu Percaya diri.
Alhamduillaah kita sekarang bisa baca Qur'an, bisa sekolah, bisa sholat bisa mengenal Allah, mengenal Rasul dan sebagainya. Ini berkat jasa Rasulullaah s.a.w yang menyampaikan ajarannya bahwa sebagai Umat islam kita harus Giat menuntut ilmu dan beribadah kepada Allah swt. 
Dalam meyampaikan ajarannya tentu saja Rasulullah  dengan penuh percaya diri, bisa dibayangkan bagaiman  kalau rasulullaah tidak memiliki Rasa percaya diri pasti ajaran beliau tidak akan sampai pada kita semua.

Oleh karena itu yu kita tingkatkan rasa percaya diri kita dengan terus menambah ilmu dan melatih kemampuan kita ! 



Sikap percaya diri dan kemandirian NabiMuhammad s.a.w

Nabi Muhammad saw. selalu melakukan perbuatan dengan percaya

diri. Pantaslah hasilnya sukses dan berhasil. Kita perlu meneladani Nabi

Muhammad saw. dalam melakukan pekerjaan.

Salah satu kunci kesuksesan dalam melakukan suatu pekerjaan atau perbuatan, adalah mengerjakannya dengan percaya diri.

Seseorang yang ingin menyeberangi sungai menggunakan seutas tali,

akan berhasil melakukannya jika ia tahu dirinya mampu melakukannya.
Tanamkanlah dan bentuklah diri kita agar tumbuh keyakinan akan kemampuan diri misalnya tenaganya kuat, tidak takut melihat ketinggian, dan lain lain.
Akan tetapi jika seseorang ragu akan kemampuannya, juga mudah takut melihat arus sungai dari ketinggian, ia akan melakukan pekerjaan itu dengan ragu-ragu. Bahkan karena tidak mengenali dirinya yang sebenarnya atau ia penakut, maka ia bisa tercebur ke sungai.

Setiap kali seseorang hendak mengerjakan sesuatu, maka ia harus memilih melakukannya dengan percaya diri atau meninggalkannya sama sekali.
Jika ia memilih mengerjakan berarti ia tahu dirinya mampu mengerjakan.
Namun jika ia ragu-ragu mampu ataukah tidak, maka lebih baik ia meninggalkan pekerjaan itu.

Agar seseorang memiliki sikap dan mental percaya diri, Agama Islam telah
menunjukkan beberapa caranya.

a.    Bertawakal kepada Allah Swt.
Tawakal berarti mewakilkan atau menyerahkan segala urusan kepada Allah swt setelah berusaha keras dalam berikhtiar dengan sepenuh kemampuan kita.
 Jika seseorang akan mengerjakan sesuatu maka hendaknya bertawakal kepada Allah Swt. sebelum melakukannya. Insya Allah, Allah Swt. akan menolong.
Allah Swt. berfirman:(QS. Ali-Imran/3:159)
 فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya:  “... Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka
bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang
yang bertawakal.”

b.  Jangan ragu-ragu
Kita dianjurkan untuk selalu mengerjakan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh tanpa ragu.

Salah satu cara agar kita tidak ragu adalah dengan cara mengenali diri sendiri  dan bertanya pada diri  sendiri
Apakah saya benar-benar mampu?
Apakah waktunya cukup?

Apakah jika ada halangan bisa mengatasinya?
Nah jika kita yakin bisa melakukannya maka kerjakanlah apa yang kita rencanakan.
Namun jika ragu dan tidak yakin tinggalkanlah.

c.  Jangan malu mengerjakan kebaikan
Ada kalanya sebelum mengerjakan sesuatu kita dihantui oleh perasaan ragu dan malu, sehingga tanpa kita sadari, waktu yang tersedia habis oleh perasaan ragu dan malu itu. Apabila kita menjadi hamba Allah Swt. yang bertawakal maka kita harus menjauhi kedua sifat malu dan ragu itu.
Jangan keliru menafsirkan sabda Rasulullah saw. :

( اَلحَيَاءُ مِنَ الْإيْمَانِ ) متفق عليه
Artinya:  Rasulullah saw. bersabda: perilaku malu merupakan bagian
dari iman. (Mutafaqun a’laih)

Hadis ini harus diletakkan pada makna yang sebenarnya. Jika dalam hati kita terbetik ingin melakukan sesuatu yang salah dan keliru maka kita perlu malu dan memilih tidak mengerjakannya. Akan tetapi kalau untuk mengerjakan kebaikan kita justru tidak boleh malu. Misalnya mau membantu orang yang sedang susah tidak boleh malu. Mau melewati jalan yang sudah benar juga tidak boleh malu. Tetapi misalnya seseorang diajak melakukan perbuatan yang merugikan banyak orang (korupsi, berbohong, dll) maka kita harus malu. Malu melakukan maksiat/perbuatan tidak terpuji, adalah awal bagi kebiasaan seseorang yang berakhlak mulia.

Jadi, jika tiba waktu salat, maka seseorang tidak boleh malu melaksanakannya. Jika seseorang disuruh berpidato naik ke panggung
(misalnya mewakili teman-temannya) dan ia mampu melakukannya, maka ia tidak boleh menolaknya. Ia harus percaya diri, tidak boleh ragu-ragu dan tidak boleh malu dalam semua kebaikan.




.
Nah untuk pembelajaran sekarang mungkin dicukupkan sekian dulu dan selanjutnya silahkan kerjakan tugas di bawah ini pada modul kalian ya, tentu saja dengan penuh percaya diri!


Tugas:
Jawablah Pertanyaan Berikut ini !

1. Menurut kalian apa yang dimaksud dengan percaya diri?

2. Pernahkan kalian ketika melakukan sesuatu, dengan kurang  percaya diri? Jika pernah apa yang kalian lakukuan? Jika tidak pernah bagaimana perasaannya setelah kalian melakukannya?

3. Ketika kalian akan melakukan sesuatu tapi dalam hatinya tidak yakin bisa melakukannya, bagaimana caranya supaya bisa percaya diri untuk melakukannya? 

Silahkan jawabannya ditulis dalam modul pembelajaran yang telah dibagikan

Terima kasih


Tidak ada komentar:

Posting Komentar